TEKNIK BIOMEDIKA, SUDAH SIAP?

Tiga Paragraf Lebih Dekat dengan Teknik Biomedika

Teknik Biomedika merupakan program studi paling muda di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (selanjutnya disingkat STEI) yang berdiri pada tahun 2015, dan mahasiswanya baru memasuki program studi ini pada tahun 2016. Teknik Biomedika ITB berdiri atas permintaan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan industry. Selain ITB, ada 3 universitas lain yang diminta untuk membuat program studi teknik biomedika, yaitu UI, ITS dan UGM. Teknik biomedika mempelajari sistem anatomi dan fisiologi manusia, untuk digambarkan dalam persamaan matematik, dan diimplementaasikan dalam ilmu ke-elektro-an nya. Kenapa harus teknik elektro? Bukankah teknik biomedika mencakup disiplin ilmu yang luar biasa luas? Kalau tidak percaya, salah seorang pelaku industry biomedika, Hasballah Zakaria, yang juga menjadi pembicara pada Meet the Pro 2 ini mempunyai latar belakang sarjana teknik sipil, namun menjadi salah satu pelaku industry biomedika yang terbilang aktif dan terus berkembang. Pak Widyawardana Adiprawita (akrab dipanggil pak Doni) juga menyebutkan kalau biomedika mempunyai irisan dengan hamper semua ilmu keteknikan. Hal ini disebabkan adanya kelompok keahlian ‘Biomedika’ pada teknik elektro yang risetnya sudah berkembang sejak 1996. Ketika ITB diminta untuk membuat prodi baru, mereka memutuskan untuk menempatan teknik biomedika pada rumpun elektro didasarkan adanya KK tersebut.

Mungkin anda akan bertanya ‘okay hubungan biomedika dengan elektro mungkin jelas, namun apa hubungannya dengan ilmu teknik lainnya? Misalkan dengan teknik sipil seperti kasus bapak Hasballah?’ Saya akan memberi contoh hubungannya dengan teknik sipil. Pak Doni menyebutkan bahwa mempelajari sifat aliran fluida pada pipa ternyata sangat mirip dengan mempelajari fluida pada pembuluh darah. Hanya saja pipa untuk menyalurkan fluida bersifat tidak elastis, bahkan kadang statis. Pada pembuluh darah, pipa bersifat elastis dan mempengaruhi perhitungan dan persamaan diferensial yang dihasilkan. Ada juga keilmuan yang dinamakan bioinformatics, sebuah disiplin ilmu yang memetakan data biologis yang akhirnya menyerempet pada DNA, genetic, dll. Manfaatnya? Salah satu manfaatnya kita dapat mempelajari sifat-sifat sel kanker tidak hanya dari perilaku yang terlihat secara kasat mata ataupun mempelajarinya sambil menunggu seorang pasien kanker mati perlahan. Melalui ilmu bioinformatics, kita dapat melihat sekuens asam nukleat dan protein yang terkandung didalamnya dan dapat memprediksikan atau membaca sifat-sifatnya lewat data tersebut. Dapat ditebak bahwa ilmu ini beririsan dengan keilmuan informatika. Keilmuan material juga bersinggungan dengan teknik biomedika. Anda tidak mungkin memasukkan sembarang bahan pada tubuh anda. Contohnya, pada acara Meet the Pro 2 bapak Hasballah memaparkan tentang sebuah ring untuk memperlancar aliran darah (kardiovaskuler) memiliki sifat material yang dapat hilang (luruh atau larut) dengan sendirinya setelah sekian waktu. Hal ini menyebabkan ring tersebut tidak berbahaya bagi peredaran darah manusia, dan waktu luruh ring ini dapat diatur dengan ilmu yang dimiliki teknik material. Ada juga interdispilin teknik jaringan (translate : tissue, bukan network), teknik farmasi, teknik genetika, dll. Tentu saja saya tidak akan menghabiskan waktu untuk membahas ini semua.

Mungkin kita dapat mencapai kata sepakat bahwa ilmu biomedika merupakan ilmu yang sangat keren dan sangat bermanfaat bagi manusia. Pertanyaannya adalah : SUDAH SIAPKAH INDONESIA MENERIMA TEKNOLOGI TERSEBUT? Layaknya bayi yang baru lahir, walaupun sama-sama manusia namun bayi tidak dapat berdekatan dengan handphone secara intensif karena dapat membahayakan perkembangan otak mereka akibat radiasi, atau seorang anak kecil yang belum boleh meminum obat-obatan jenis tertentu khusus orang dewasa. Hal ini disebabkan bayi dan anak kecil tersebut BELUM SIAP menerima kecanggihan dan manfaat teknologi. Bukankah kita sepakat bahwa handphone atau obat-obatan tertentu bermanfaat bagi kelancaran hidup kita? Jika dianalogikan, apakah Indonesia adalah seorang bayi dan program studi teknik biomedika adalah handphone, sudah siapkah mahasiswa, tenaga pengajar dan pelaku industri di Indonesia menerima teknologi ini?

 Program studi Baru? Silahkan Kuliah di Jatinangor
Aturan tersebut memang betul adanya, setiap program studi baru harus berkuliah di kampus ITB Jatinangor. Kampus ITB Jatinangor sendiri berdiri pada tahun 2013. Program studi Teknik Biomedika-pun ikut terkena getah dari peraturan ini. Jika anda membuka laman internet jatinangor.itb.ac.id , anda dapat menemukan nama Teknik Biomedika pada daftar program studi di tab ‘Program Studi’ dibawah fakultas ‘Sekolah Teknik Elektro dan Informatika.’ Jika anda membuka laman tersebut, anda hanya akan menemukan penjelasan penjelasan, tujuan, harapan output dan prospek karir dari program studi teknik biomedika. Laman tersebut bahkan mem-forward anda dari domain jatinangor.itb.ac.id ke
stei.itb.ac.id. Sebenarnya ini bukan hal yang aneh karena hal ini juga terjadi pada laman program studi yang lain (di forward ke domain fakultas masing-masing). Namun mengapa ini menjadi pokok bahasan? Karena saya tidak menemukan adanya keputusan rektor ITB terkait pembukaan program studi Teknik Biomedika pada laman landasan hukum web ITB Jaitnangor. Jika anda penasaran, anda dapat meng-aksesnya pada laman jatinangor.itb.ac.id/landasan-hukum/. Lalu mengapa ada pilihan Teknik Biomedika pada daftar prodi web ITB Jatinangor? ‘Mungkinkah surat keputusan rektor ITB belum update bung Fakhri? Prodinya saja baru ada tahun ini, masih muda.’ Masuk akal, tapi adanya keputusan rektor terkait pembentukan prodi teknik bioenergi dan teknik pangan yang memiliki umur yang sama dengan teknik biomedika mematahkan argumen tersebut.
Secara de fakto, teman-teman mahasiswa Teknik Biomedika pada semester ini juga berkuliah di kampus ITB Ganesha. Saya mendengar juga dari mereka bahwa kaprodinya sendiri yang memiliki permohonan agar teknik biomedika dapat berkuliah di kampus ITB Ganesha karena keterbatasan alat praktikum dan dosen yang akan mengalami kesulitan jika harus dipindah ke Jatinangor. Kuriklum prodi teknik biomedika ITB mengharuskan dosen dari prodi-prodi lain (co : teknik elektro, kimia, biologi, farmasi) yang berdomisili kampus ITB Ganesha mengajar. Bukankah memindahkan dosen dari ganesha ke jatinangor untuk mengajar mahasiswa dengan durasi setara 2 sks akan sedikit merepotkan? Namun peraturan adalah peraturan.
Lalu apa hubungannya dengan industry biomedika di Indonesia? Tentu saja sangat erat, mahasiswa prodi Teknik Biomedika akan menjadi penerus perjuangan para dosen yang sekarang melakukan riset dengan fasilitas kampus ini di masa yang akan datang. Jika untuk berkuliah saja susah, bagaimana mereka akan menguasai industri? Bukankah ketidakjelasan lokasi perkuliahan prodi ini menunjukkan ketidaksiapan ITB dalam membentuk calon penguasa industri biomedika di masa depan? Lalu mengapa prodi teknik biomedika dipaksakan berdiri ketika kesiapan penunjang perkuliahannya saja belum mencapai tahap ‘rapih dan jelas’? Tentu saja saya berharap yang terbaik untuk prodi tersebut. Bagaimanapun, prodi teknik biomedika sudah terbentuk.

 ITB Siap! Indonesia Siap?
Waktu berjalan, dan teknik biomedika ITB sudah memiliki kedudukannya yang tetap di ITB, memiliki domisili sendiri, kampus sendiri, tenaga pengajar sendiri, lab sendiri
dan seterusnya (jika anda jeli, kalimat ini adalah sebuah pengandaian). Namun apakah Indonesia sudah siap?
Sebuah sistem yang baik akan berjalan jika terdapat kecocokan antara sistem dan pelaku. Misalkan pada negara maju seperti Singapura, taraf pendidikan masyarakatnya sudah maju dan madani sehingga pemerintahnya dapat memberlakukan sistem uang elektronik ‘ez-link’ pada setiap lini kegiatan di Singapura dengan lancar. Sistem yang sama belum dapat dijalankan pada negara berkembang karena perbedaan taraf pendidikan masyarakatnya. Kembali pada biomedika, apakah masyarakat Indonesia akan terbiasa dengan teknologi ini? Akankah para tabib dan dukun kehilangan pasien mereka ketika industry biomedika di Indonesia sudah maju?
Sampai sekarang, peralatan medik di Indonesia yang diproduksi dalam negeri hanya mencapai 6% dari total alat kesehatan (alkes). Alat apa saja 6% itu? Kursi, Kasur, tiang tempat menyangkutkan infus, pispot (ups). Lalu ada pengeluaran biaya kesehatan perkapita di Indonesia dengan angka 2,7% dari GDP, yaitu sekiar $100 pertahun pada 2013. Hal ini setara dengan 100 ribu rupiah perbulan (semoga ini menunjukkan masyarakat Indonesia sudah sehat sehingga tidak perlu mengeluarkan uang lagi). Sangat sedikit, dibandingkan dengan Amerika dengan angka yang setara dengan 10 juta rupiah perbulan. Dengan angka pengeluaran sekecil itu di Indonesia, adakah tempat untuk industry biomedika di Indonesia? Apakah masa depan para insinyur biomedika di Indonesia akan cerah?
Baik, kondisi diatas sudah terpenuhi. Para insinyur biomedika sudah membuat alkes yang selain menyembuhkan, tapi juga dapat mencegah atau mendeteksi dini keberadaan suatu penyakit (kalimat ini juga sebuah pengandaian). Kondisi industry biomedika sudah mapan dan maju, tapi apakah para mafia dan tikus-tikus koruptor akan diam? Bapak Hasballah menyinggung bahwa biaya produksi alkes itu sangatlah murah. Ring untuk kardiovaskuler yang dibahas sebelumnya hanya memiliki biaya produksi $50, tapi dijual pada masyarakat hingga 10 juta rupiah. WOW!! Seller ring tersebut untung hingga 154 kali lipat hanya untuk 1 buah ring. Apakah biaya uji klinis, pengiriman barang, packing dan lain-lain sampai semahal itu? Tanyakan pada rumput yang bergoyang, saya tidak ingin banyak spekulasi dan negative thinking .

 World Class University? World Class Problem
Selesai dibuai oleh kondisi ideal, mari beranjak kembali pada kondisi riil. Industri biomedika di Indonesia masih sangat jauh dari kata mapan, karena bahkan untuk melakukan uji klinis peralatan biomedika Indonesia masih belum memiliki standar mandiri. Lalu kenapa? Jika di Indonesia saja tidak ada standar, bagaimana ada institusi yang men-sertifikasi peralatan biomedika di Indonesia? Hal ini bertubrukan dengan tuntutan pemerintah bahwa RS harus memiliki alkes yang sudah bersertifikasi. Sungguh berat tantangan para pelaku industry biomedika di Indonesia pada masa kini. Tapi tunggu, bukankah ITB memiliki cita-cita sebagai world class entrepreneurial university? Beberapa kali bapak Doni mengulang kata-kata World Class University, dimana ITB dengan cita-cita seperti demikian seharusnya sudah tidak melihat suatu permasalahan atau suatu peluang secara nasional. Berikanlah masalah nasional kepada universitas lain, sudah saatnya civitas ITB menjadi masyarakat dunia. Anda mendapatkan kesulitan untuk mencari peluang sukses pada bidang biomedika di Indonesia? Maka pergilah ke luar Indonesia! Carilah peluang yang lebih besar di kancah international! Sulit? Memang, semua butuh perjuangan. Tidak mau kerja? Maka bukalah peluang sendiri, pembicara Meet the Pro 2 memberi contoh jadilah seller alat biomedika level internasional, antar negara, sambil memberi untung dan memajukan Indonesia. Terlalu banyak masalah internasional yang dapat menjadi peluang para pelaku industry masa depan. Bapak Richard mengko, pembicara Meet the Pro 2 sekaligus mantan staf ahli Menristek bidang Industri dan Perdagangan memaparkan sebuah materi tentang iptek masa depan dengan level dunia. Dengan sendirinya teknologi akan mengubah gaya hidup dan profesi di masa depan. Sebagai contoh, pada era berdirinya Republik Indonesia, tidak ada profesi web-designer atau digital-artist. Tapi di masa kini? Profesi tersebut memiliki prospek yang tinggi dan digandrungi. Jika anda penasaran, anda dapat melihat laman futuretimeline.net sebagai bayangan. Apakah ITB siap? Silahkan jawab sendiri, ini adalah tantangan masa depan dimana yang bisa menjawab adalah saya dan kalian, sesama mahasiswa calon penguasa masa depan.

 Your Problem? MY BUSINESS
“Semakin banyak orang bodoh, semakin mudah kalian jadi juara!” ucap bapak Richard dalam acara Meet the Pro 2. Betul! Seperti itulah seorang engineer berpikir! Bagaimanapun keadaan Indonesia masa kini, kita harus siap di masa depan. Pada masa kini mungkin prospek industry biomedika di Indonesia belum maju, bahkan terlihat suram, tapi siapa yang tau bagaimana kondisinya di masa depan? Tugas ITB ialah menyiapkan engineer dan manusia yang siap menghadapi, mengubah dan menguasai masa depan. Industri belum maju? Kita buat maju! Standar alkes Indonesia belum ada? Kita buat standarnya! Ajukan pada pemerintah! Mau sukses? Buat orang lain juga sukses! Kamu akan ikutan jadi orang sukses saat membantu orang. Kuasailah ilmu-ilmu masa depan, maka kamu akan menjadi penguasa nantinya!
Akhir kata, penulis hanya ingin membuka mata para pembaca bahwa disaat banyaknya masalah dan ketidaksiapan, sesungguhnya peluang terbuka lebar di masa yang akan datang. Penulis juga hanya seorang mahasiswa teknik elektro tingkat 2 yang sama-sama belajar, dan tentunya berdoa untuk kesuksesan industry biomedika di Indonesia.

Fakhri Ekaputra Surya – 13215051

1 Comment on “TEKNIK BIOMEDIKA, SUDAH SIAP?

Comments are closed.