Menuju Masa Depan Yang Terbarukan

wow

Energi menjadi sebuah bagian yang tak bisa terpisahkan dalam hidup kita, karena itulah umat manusia terus berusaha untuk mencari sumber energi guna mempermudah berbagai aktivitas dalam hidupnya. Salah satu sumber energi yang paling sering dipakai saat ini adalah bahan bakar fosil. Berdasarkan statistik dari International Energy Agency, pada 2014 tercatat penggunaan bahan bakar fosil (batu bara, minyak bumi, dan gas alam) sebagai sumber energi mencapai sekitar 81% dari seluruh sumber energi yang tersedia. Sementara untuk produksi energi listrik, secara global penggunaan bahan bakar fosil tersebut mencapai sekitar 67%. Memang, bahan bakar fosil masih menjadi favorit saat ini karena relatif lebih murah, mudah didapat, dan efektif. Namun sayangnya, penggunaan bahan bakar fosil saat ini sudah terlalu merajalela sehingga menimbulkan berbagai dampak negatif. Salah satu dampak yang paling signifikan adalah tingginya kontribusi bahan bakar fosil terhadap kerusakan lingkungan. Lembaga US Environmental Protection Agency melalui website-nya menyatakan bahwa pada tahun 2010, dari seluruh emisi gas rumah kaca di bumi ini, 65% diantaranya merupakan karbondioksida yang sebagian besar (91% dari seluruh emisi karbondioksida) timbul sebagai hasil pembakaran bahan bakar fosil. Belum lagi ditambah dengan emisi gas metana yang berasal dari penggunaan gas alam sebagai sumber energi, yang sama-sama berdampak buruk bagi lingkungan, serta gas-gas lainnya.

 

Seberapa besarkah kerusakan lingkungan yang terjadi akibat penggunaan bahan bakar fosil? Kenaikan temperatur global adalah salah satu contohnya. Dari tahun 1880 hingga 2015, tercatat kenaikan temperatur global sekitar 0,9 derajat Celcius. Dampak dari kenaikan temperatur tersebut misalnya adalah melelehnya es di kutub yang menyebabkan naiknya permukaan air laut (tiap tahunnya rata-rata air laut global naik 3,2 milimeter) sehingga mempermudah terjadinya banjir di berbagai daerah. Selain kenaikan temperatur global, dampak lainnya adalah fenomena hujan asam yang disebabkan oleh Sulfur Dioksida sebagai hasil dari pembakaran bahan bakar fosil. Akibat dari hujan asam ini bisa merusak benda-benda yang terkena air hujan tersebut. Bahan bakar fosil juga berdampak buruk bagi kesehatan manusia, karena sisa pembakarannya menghasilkan gas-gas berbahaya dan bisa mengakibatkan asma, COPD (chronic obstructive pulmonary disorder), bahkan hingga kanker paru-paru. Selain itu, secara jangka panjang kita tidak bisa bergantung pada bahan bakar fosil terus menerus, karena butuh waktu yang sangat lama bagi bahan bakar fosil untuk mengalami regenerasi. Jika dalam beberapa puluh tahun kedepan kita masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil dan ternyata bahan bakar fosil tersebut habis, bisa jadi akan timbul bencana kelangkaan energi yang dahsyat.

 

Dengan segala permasalahan tersebut, tentu saja perlu dicari solusi agar dampaknya tidak semakin parah. Salah satunya adalah dengan mulai mengganti bahan bakar fosil tersebut dengan sumber energi yang lebih ramah lingkungan dan terbarukan. Ramah lingkungan, artinya sumber energi tersebut tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan seperti yang disebutkan di paragraf sebelumnya. Terbarukan, artinya energi tersebut berasal dari proses alam yang berkelanjutan, sehingga dapat mengalami regenerasi dalam waktu yang singkat. Dengan begitu, dalam jangka panjang kita tidak perlu khawatir jika sewaktu-waktu sumber energi tersebut habis (dengan catatan : bila energi tersebut dikelola dengan baik). Sumber energi alternatif tersebut biasa kita sebut sebagai energi baru dan terbarukan (EBT).

 

Konsep EBT sudah mulai dikenal sejak sekitar tahun 1970, dan terus dikembangkan hingga sekarang. Indonesia pun tidak boleh kalah dalam pengembangan EBT ini. Dengan emisi CO2 per kapita yang sudah mencapai 1,8 metrik ton pada tahun 2010, serta cadangan bahan bakar fosil yang terus menipis (bahkan untuk minyak bumi sejak tahun 2002 Indonesia telah menjadi net importir dan cadangannya diperkirakan akan habis dalam sekitar 10 tahun kedepan), pengembangan EBT menjadi sebuah tugas yang mesti digarap secepat dan sebaik mungkin. Pemerintah Indonesia sendiri sudah memiliki rencana dalam mengembangkan EBT, salah satunya dalam bidang ketenagalistrikan. Merujuk pada dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2016-2025, diharapkan pada tahun 2025 komposisi penggunaan EBT Indonesia akan meningkat sekitar 22 Giga Watt sehingga porsi EBT dalam pembangkitan tenaga listrik menjadi 19,6%. Dari dokumen RUPTL juga, dengan peningkatan porsi EBT tersebut pada tahun 2025 diperkirakan akan terjadi penurunan emisi CO2 sebesar 112 juta ton CO2. Jika memungkinkan, bahkan proyeksi porsi EBT kabarnya akan direvisi dan ditingkatkan lagi menjadi 25% di tahun 2025.

 

Proyeksi EBT yang disebutkan sebelumnya bukanlah tanpa pertimbangan yang matang. Selain faktor pentingnya menggantikan bahan bakar fosil, rupanya potensi EBT di Indonesia juga cukup menjanjikan, berikut ini rinciannya : (sebagai pembanding, saat ini total kapasitas pembangkit listrik yang terpasang di Indonesia adalah sekitar 51.000 MW)

 Tenaga panas bumi, potensinya mencapai 29.164 Mega Watt elektrik (MWe)
 Tenaga air/hydro, potensinya sekitar 75.000 MWe
 Biomassa, potensinya 49.810 Mwe
 Tenaga surya/matahari, potensinya 4,8 kWh/m2/hari. HIngga tahun 2025 rencananya akan dilakukan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya sebesar 5.000 MW
 Tenaga angin, potensi kecepatan angin sekitar 3-6 m/s. Hingga tahun 2025 rencananya akan dilakukan pengembangan pembangkit listrik tenaga bayu (angin) sebesar 2.500 MW
 Energi kelautan (dengan memanfaatkan pergerakan air laut, namun sumber energi ini masih dalam tahap penelitian), diperkirakan potensinya mencapai 49.000 MWe

 

Dengan tingginya potensi yang dimiliki, bukan berarti pengembangan EBT berjalan tanpa hambatan. Hingga tahun 2025, Kementrian ESDM Republik Indonesia baru menginvestasikan sekitar 13 juta US Dollar untuk pengembangan EBT. Jumlah tersebut sebenarnya tergolong kecil dibandingkan jumlah investasi sistem tenaga listrik yang dibutuhkan Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang mencapai 75,6 miliar US Dollar hingga tahun 2025 (31,9 miliar US Dollar diantaranya dimanfaatkan untuk pengembangan pembangkit listrik). Dalam RUPTL 2016-2025 memang disebutkan bahwa besarnya kebutuhan investasi ini karena mempertimbangkan pengembangan pembangkit listrik EBT yang cukup tinggi untuk mencapai target bauran energi dari EBT sekitar 20% pada tahun 2025. Masalah finansial memang masih menjadi masalah yang sulit untuk dihindari, khususnya bagi negara yang masih berkembang seperti Indonesia. Sebagai pembanding, besarnya total belanja negara berdasarkan dokumen “Informasi APBN 2016” dari Kementrian Keuangan RI adalah Rp 2.095,7 T atau sekitar 160 juta US Dollar, masih jauh lebih kecil dibandingkan kebutuhan investasi PLN yang tadi disebutkan. Dapat disimpulkan, pengembangan EBT memang bukanlah sesuatu yang murah. Namun jika ditinjau secara jangka panjang, EBT bisa menjadi pilihan yang menguntungkan secara ekonomis, salah satunya karena sumber EBT umumnya bukan hasil impor, sehingga harga bahan bakarnya relatif lebih stabil. Memang untuk kedepannya masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut agar pemanfaatan EBT bisa lebih efisien dan efektif baik dari segi teknikal maupun finansial.

 

Meski terdapat berbagai hambatan yang timbul dalam pengembangan EBT, bukan berarti impian untuk memaksimalkan potensi EBT sebatas sampai dituangkan dalam dokumen-dokumen. Beberapa langkah konkret sudah dilakukan, diantaranya adalah pembangunan PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro) Lokomboro dengan kapasitas 2,7 MW yang berlokasi di Sumba, dari pembangkit tersebut pada tahun 2015 bisa didapat penghematan hingga 10 milyar rupiah. Selain itu di wilayah Sumba juga terdapat PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) dengan kapasitas daya terpasang 500 kW dan 150 kW. Selain di Sumba, pembangunan PLTS juga sudah dilakukan di beberapa daerah seperti di Kampung Harapan Jaya Kabupaten Raja Ampat (kapasitas 15 kW), di Provinsi Maluku (kapasitas total 200 kW), di Provinsi Maluku Utara (kapasitas 350 kW). Selain PLTMH dan PLTS, beberapa proyek PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi) juga akan siap beroperasi dalam waktu dekat ini, diantaranya adalah PLTP Sarulia (berlokasi di Tapanuli, Sumatera Utara) dengan kapasitas 110 MW yang akan beroperasi pada Desember 2016, PLTP Karaha (Garut, Jawa Barat) dengan kapasitas 30 MW yang akan beroperasi Desember 2016, dan lainnya. Berbagai realisasi pembangkit listrik EBT tersebut patut disyukuri dan kita apresiasi karena hal tersebut menunjukan keseriusan stakeholder yang ada dalam menggarap pengembangan EBT.

 

Melihat kondisi yang ada saat ini, seperti yang disampaikan sebelumnya, penulis berpendapat bahwa pengembangan EBT memang sudah sebaiknya kita lakukan secepat dan sebaik mungkin. Jika tidak, bukan tidak mungkin kondisi lingkungan akan semakin rusak sehingga memicu berbagai bencana alam maupun penyakit bagi makhluk hidup, bukan tidak mungkin di masa depan akan terjadi krisis energi akibat kita yang terlambat menyadari bahwa ada pilihan alternatif energi yang terbarukan, serta bukan tidak mungkin kita akan terus mengalami kerugian secara finansial maupun teknikal akibat terlalu bergantung terhadap sumber energi dari bahan bakar fosil. Sebagai mahasiswa, memang masih banyak keterbatasan yang kita miliki, namun bukan berarti kita tidak bisa berbuat apapun untuk berkontribusi bagi pengembangan EBT. Salah satu cara yang paling mungkin untuk dilakukan adalah dengan menambah wawasan seluas mungkin terkait EBT beserta arah perkembangannya (khususnya di Indonesia), sehingga ketika sudah terjun ke dunia karir dan bergulat dengan kenyataan yang ada nantinya, kita bisa lebih siap lagi untuk berkontribusi semaksimal mungkin dalam pengembangan EBT. Karena itulah, HME ITB bekerjasama dengan panitia “Power UP” membuat sebuah langkah konkret dengan mengadakan seminar mengenai “Energi Baru Terbarukan : Realita Implementasi dan Sinergisasi Pilar-Pilar Utama” dalam rangka Hari Listrik Nasional yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 29 Oktober 2016 pukul 08.30-12.30 di Perpustakaan Pusat ITB Lantai 1 (pendaftaran di bit.ly/seminarharilistrik , info lebih lanjut bisa cek di Line Official Account “HME ITB”). Sampai jumpa disana kawan! Untuk masa depan yang terbarukan!

Angga Aprilian
18013023