Author: HME ITB

[Writing Competition] Pertarungan DC vs AC Belum Usai!

acdc

Jika kita membaca sejarah, listrik memang sudah ditemukan sejak tahun 1800-an. Kita mungkin masih ingat dengan cerita dramatis Thomas A. Edison yang gagal ribuan kali sebelum akhirnya menemukan lampu bolam. Tapi tahukah kita? Sebenarnya, sistem kelistrikan yang ditemukan pada tahun 1800-an sebenarnya tidak sama dengan sistem kelistrikan yang kita kenal sekarang. Nah, apa bedanya? Apa hubungannya dengan judul tulisan “Pertarungan DC vs AC Belum Usai!”? Mari kita simak lebih lanjut.


Sistem distribusi tenaga listrik pertama yang dikembangkan di Amerika Serikat adalah sistem 120 Volt DC yang ditemukan oleh Thomas A. Edison untuk menyuplai daya bagi lampu bohlam. Sistem ini mulai beroperasi di kota New York pada bulan September tahun 1882. Akan tetapi, kelemahan dari sistem ini adalah besarnya arus yang dibutuhkan untuk menyuplai beban. Akibatnya, arus yang mengalir dalam jumlah yang besar ini menyebabkan rugi-rugi (losses) yang cukup signifikan di saluran transmisi dan tegangan jatuh (voltage drop) yang tinggi pula. Pendek kata, sistem ini tidak efektif dan tidak efisien. Dikatakan tidak efisien karena daya yang terbuang di saluran transmisi sangat besar. Dikatakan tidak efektif karena konsekuensi ketidakefisienan sistem 120 Volt DC ini menyebabkan beban harus diletakkan dekat ke stasiun daya (power stations). Singkatnya, sistem kelistrikan DC tidak bisa diandalkan!


Akan tetapi, masalah ini berakhir ketika penemuan sistem kelistrikan AC dan transformer (trafo) dianggap menyelesaikan permasalahan transmisi daya dalam jumlah besar dan jarak yang jauh. Dengan trafo, tegangan AC dari sumber dapat dinaikkan (step-up) ke level tegangan tertentu yang lebih tinggi. Hal ini dilakukan untuk memperkecil jumlah arus yang mengalir pada saat terjadi transmisi, karena aliran arus yang besarlah penyebab tingginya rugi-rugi (losses). Pada saat saluran transmisi listrik sudah dekat ke beban, maka tegangan transmisi yang tinggi tersebut dapat diturunkan lagi (step-down) untuk dapat memenuhi kebutuhan beban baik di industri maupun rumah tangga. Seiring dengan perkembangan teknologi listrik, jadilah sistem AC tiga fasa 50Hz/60Hz (atau biasa disebut dengan HVAC (High Voltage AC)/AC saja) ini telah diaplikasikan secara luas di belahan dunia, termasuk Indonesia. Pada saat itu, mungkin orang-orang berpikir bahwa pertarungan antara sistem kelistrikan DC dan AC sudah selesai dengan AC keluar sebagai pemenangnya.


Kesimpulan tersebut agaknya dibuat terlalu tergesa-gesa, karena telah ditemukan (dan juga diaplikasikan) teknologi baru bernama HVDC (High Voltage DC). Sistem HVDC ini menggunakan arus searah (direct current) untuk transmisi daya, bukan arus bolak-balik (alternating current) seperti yang dipraktekkan dalam HVAC. Untuk transmisi jarak jauh, teknologi HVDC lebih murah daripada HVAC, salah satunya karena HVDC konduktor yang lebih sedikit dari HVAC untuk saluran transmisi. Selain itu, rugi-rugi yang dihasilkan oleh HVDC lebih rendah dibandingkan dengan HVAC. Hal itu disebabkan tidak adanya rugi-rugi kapasitif dan induktif di sistem HVDC, sangat kontras dengan HVAC.


Di Indonesia sendiri, proyek HVDC dicanangkan untuk interkoneksi Pulau Sumatera-Jawa dan kontraknya sudah ditandatangani sejak tahun 2010. Hal ini dapat menjadi solusi untuk transmisi daya dari Mine-Mouth Coal-fired Power Plant di Sumatera Selatan ke pusat beban yang berada di pulau Jawa. Saluran 500kV HVDC dicanangkan untuk memenuhi kebutuhan beban di pulau Sumatera dan Jawa.


Meskipun demikian, teknologi HVDC ini bukannya tanpa kendala. Contoh kendala-kendala yang dihadapi oleh HVDC adalah: dibutuhkannya stasiun konverter untuk menyearahkan tegangan AC, keharusan tersedianya spare part, sistem proteksi (karena sistem proteksi yang berkembang saat ini lebih banyak mengakomodasi sistem AC), dan lain-lain. Terlepas dari kendala ini, ternyata sistem HVDC sudah diaplikasikan di berbagai negara seperti Jepang, China, Brazil, dll dengan tegangan 100kV, 500kV, dan 800kV dalam tahap pembangunan.


Dengan kembalinya teknologi DC ke permukaan, akankah DC mampu kembali bersaing dengan AC dalam sistem transmisi?

 

Juris Arrozy

18013010

Teknik Tenaga Listrik

 

Sumber:

  1. Stephen J. Chapman, Electric Machinery Fundamentals 4th
  2. https://en.wikipedia.org/wiki/High-voltage_direct_current, diakses tanggal 1 November 2016.
  3. https://konversi.wordpress.com/2010/06/07/memahami-hvdc-teknologi-dan-pemanfaatan/, diakses tanggal 1 November 2016.
  4. http://hvdcsumatrajava.com/, diakses tanggal 1 November 2016.

Gambar diambil dari http://www.metalinjection.net/av/every-acdc-song-ends-the-same-way

 

NB: Tulisan dibuat sederhana dan tidak ada rumus untuk mangsa pasar yang lebih luas.

[Writing Competition] PLN, Mahasiswa dan Ketenagalistrikan Indonesia

pln

PLN (Perusahaan Listrik Negara) adalah perusahaan perseroan yang menyelenggarakan usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum. Sebagai perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara), PLN tentu mempunyai tanggung jawab menjaga sumber daya (dalam hal ini berkaitan dengan kelistrikan) dan mendistribusikannya kepada masyarakat Indonesia karena keberadaannya yang diproteksi pemerintah. Pada zaman yang sudah modern dengan kemajuan teknologinya, PLN dituntut untuk terus berinovasi dan berkarya. Jika tidak, bukan tidak mungkin keberadaannya akan tergerus oleh adanya perusahaan digital yang terus mendominasi.


Sebagai contoh, perusahaan media terbesar sekarang ialah Facebook, yang bahkan tidak memproduksi berita. Dunia perhotelan tidak lagi dikuasi JW Marriot atau Hilton, namun justru Airbnb yang hanya menjual informasi kamar. Kemudian, salah satu raksasa ritel dunia, Alibaba (perusahaan dengan rekor IPO terbesar dalam sejarah US), sama sekali tidak mempunyai gudang penyimpanan barang. Uber Taxi dengan valuasi perusahaannya mencapai 920 triliun juga tidak memiliki satu unit taksi pun. Semua model bisnis diatas, menggunakan kunci economic sharing melalui kolaborasi. (Rhenald Khasali, 2016).Sistem berjalan paralel, sehingga mampu mengurangi cost. Cost yang lebih murah secara teori mampu menarik lebih banyak customer.


Kembali ke PLN, sejatinya perusahaan ketenagalistrikan adalah industri yang berbentuk monopoli natural. Menurut Di Lorenzo dalam Donny Prasetya (2016:15) menjelaskan bahwa penyedia jasa ketenagalistrikan selain dituntut berorientasi bisnis, pada saat yang sama juga berkewajiban memberikan Jasa Layanan Publik. PLN sebagai satu-satunya penyedia jasa layanan energi listrik yang terintegrasi harus berinovasi dalam mengembangkan kepak sayap bisnisnya sembari terus meningkatkan layanannya terhadap pelanggan.


Energi Terbarukan


Suatu ketika, Dirut PLN beserta jajaran karyawannya pernah dijamu minum teh oleh Presiden RI di Istana sebagai bentuk apresiasi. Pasalnya, PLN dianggap mampu ‘mengatasi’ masalah pemadaman listrik yang sebelumnya telah ditargetkan, dengan sangat cepat. Namun, dalam beberapa bulan setelahnya, masalah pemadaman justru semakin parah. Apa yang terjadi? Ternyata tenaga yang digunakan untuk mengaliri daerah yang padam menggunakan diesel. Diesel yang bahkan penggunaanya sudah ‘diharamkan’ oleh PLN ini disewa secara besar-besaran. Diesel memang sangat efektif dan cepat dalam mengatasi pemadaman listrik, tapi biaya dan dampak yang terjadi harus dibayar mahal. Bukan ingin mengorek kebijakan yang lampau, hanya masalah energi ini, apalagi terbarukan, tidak melulu soal sains dan teknik, namun juga tentang politik, ekonomi dan bisnis.


Selama ini, energi geothermal (panas bumi) dan hydro dipandang bisa menjadi solusi energi terbarukan yang paling menjanjikan. Masing-masing di atas kertas mempunyai potensi sekitar 30.000MWe dan 75.000Mwe. Namun, untuk geothermal, membangun pembangkit dengan kapasistas 4000 MWe saja sudah sangat susah. Hal ini dikarenakan, salah satu masalahnya, pada kenyataan di lapangan persebaran panas bumi cenderung berada di hutan lindung, yang notabene hampir mustahil dialihfungsikan menjadi pembangkit listrik (Supriadi, 2016). Sedangkan potensi hydro, konon terus menurun hingga 12.000 MWe disebabkan oleh banyak faktor. Faktor yang menyebabkan, hydro tak lagi jadi favorit antara lin cost yang dikeluarkan untuk mengelolanya tak lagi murah, potensi diragukan dapat terus stabil hingga puluhan tahun serta masalah isu lingkungan dan sosial.


Selanjutnya, potensi yang bisa dikembangkan adalah tenaga surya. Banyak negara maju dan berkembang di dunia sudah mulai memanfaatkannya secara praktis dengan riset yang terus berjalan. Pak Supriadi, Dirut STT-PLN, melalui blognya berpendapat bahwa masih banyak informasi dan wawasan yang rancu mengenai PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya), bahkan dari jajaran petinggi PLN sendiri. Diantaranya, miskonsepsi mengenai angka KWH yang dihasilkan oleh sebuah PLTS. Angka KWH yang dihitung adalah angka realisasi dari PLTS yang rata-rata kinerjanya buruk dengan waktu depresiasinya terhitung 5 tahun (seharusnya 10 tahun). Selain itu, petinggi PLN juga berpendapat bahwa PLTS tidak cocok dengan iklim di Indonesia. Padahal, energi matahari, yang dihitung dengan PSH (Peak Sun Hour), kita lebih tinggi dibandingkan Jerman, yang mana pengeloalaan PLTS nya sudah sangat berkembang. PLTS di Indonesia pembangunny diatur oleh Permen. Regulasi yang mengatur tentang batasan kuota dan proses tender ini membuat proses menjadi sangat lama. Apabila proses perizinan lancar, konstruksi PLTS bisa selesai di bawah 6 bulan.


Masalah utama PLTS ialah persoalan konverter daya. Konverter daya mengubah keluaran DC menjadi AC agar dapat dimanfaatkan di rumah tangga. Saat ini konverter yang ada (oleh ITB-LEN) sudah dapat mengubah 120 VDC menjadi 220 VAC. Namun, tuntutan saat ini harus dapat mengubah 48 VDC menjadi 220 VAC. Teknologi untuk membangunnya, Indonesia masih tertinggal 15 tahun dibanding negara maju lainnya. Tak seberapa jauh dibanding dalam bidang perminyakan hingga 100 tahun. (Arwindra, 2016). Selain itu, storage untuk daya PLTS harus ditingkatkan kemampuannya. Konon, pernah suatu ketika, PLTS terbesar di Indonesia, tepatnya di NTT, mendadak drop karena iklim yang diprediksi terang menjadi mendung. Permasalahan storage/baterai memang menjadi problem utama oleh perusahaan aplikasi kelistrikan. Tesla Motor bahkan mennggunakan hampir setengah biaya investasinya untuk pembuatan baterai.


Listrik Kerakyatan


Untuk mengatasi permasalahan listrik Indonesia, Pak Supriadi menawarkan sebuah konsep brilian. Beliau berpendapat bahwa 1 x 1000 = 1000 x 1. Artinya, membangun pembangkit 1 MW di 1000 titik akan jauh lebih mudah, cepat dan efeknya dapat langsung dirasakan dibanding membangun pembangkit 1000 MW di satu titik dengan segala perizinan, pembebasan tanah hingga desain engineering-nya yang rumit. Pak Supriadi juga menggagas sebuah proyek Listrik Kerakyatan. Listrik Kerakyatan merupakan integerasi pembangkit dengan energi bersih sederhana dan berskala kecil yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Energi yang bisa dimanfaatkan, salah satunya ialah sampah.


Tujuan serta manfaat dari Listrik Kerakyatan ini bisa memberdayakan pengusaha kecil, membuka lapangan kerja, melistriki daerah terisolir dan mamu mengurangi penggunaan BBM. Permasalahan sampah yang ada secara indikator dapat dilihat dari masih adanya truk sampah yang berlalu-lalang di jalan. Sampah selama ini tidak habis di satu tempat namun hanya memindahkannya ke pembuangan yang lain. Sampah di Jawa Bali dan sampah dari sektor pertanian dan kehutanan mempunyai potensi hingga 60.000 MW. Jumlah yang sangat besar apabila mampu dimanfaatkan secara paralel di seluruh Indonesia.


Salah satu masalah utama di Indonesia adalah rendahnya rasio elektrifikasi negeri ini. Tercatat, hingga tahun 2015, rasio elektrifikasi sekitar 88%, masih jauh tertinggal dibanding Singapura (100%), Malaysia (99%) bahkan Vietnam (98%). Salah satu megapoyek Presiden RI ialah poyek pembangkit listrik 35.000 MW. Dari jumlah tersebut hanya 10.000MW (29%) dibangun oleh PLN sedangkan sisanya diberikan ke pihak swasta/IPP (Independent Power Producer).


Mahasiswa


Mahasiswa harus menjadi katalis pembangunan di Indonesia. Kalau tidak mau disebut sebagai ‘calon buruh’, tentu jangan bersikap seperti ‘calon buruh’. Kehidupan penuh tugas, praktikum dan organisasi bukanlah sebuah alasan untuk tidak menghasilkan karya atau sumbangsih demi pembangunan bangsa. Tak sepantasnya sebagai mahasiswa jika mengeluh akan keadaan. Sebagai seorang akademisi, mahasiswa merupakan salah satu pilar dalam pembangunan, disamping pemerintah dan swasta. Pilar yang diusung ini bukanlah tugas yang ringan. Perguruan tinggi, sebagai tempat bernaung mahasiswa, memegang tanggung jawab besar dalam menopang pembangunan di sisi knowledge and research. Mahasiswalah yang bertugas menerapkan dan mengaplikasikan keilmuannya dalam bentuk ide atau riset.


Namun, yang menjadi pertanyaan, kemana fokus riset keilmuan kita ? Dalam kacamata akademisi, output riset yang dikembangkan menjadi dilematis akan dua hal, yaitu menghasilkan teknologi tinggi atau teknologi tepat guna ? Teknologi tinggi menjanjikan pembangunan negara menjadi leading karena menghasilkan sesuatu yang advance yang tidak dapat ditiru. Namun, teknologi tinggi membutuhkan SDM (Sumber Daya Manusia) yang siap, biaya yang tinggi dan sarana-prasarana lengkap. Riset ini juga tidak bisa menjamin dapat berhasil dalam waktu singkat. Sedangkan teknologi tepat guna merupakan implementasi dari teknologi atau ilmu yang sudah ada menjadi sebuah tools yang mempunyai manfaat praktis. Sebagai negara berkembang, keduanya merupakan hal yang penting dan saling melengkapi. Namun dari sisi urgensi, teknologi tepat guna lebih mudah dan lebih cepat dalam prosesnya.Riset dapat diibaratkan sebagai sebuah piramida yang semakin meruncing ke atas. Puncak piramida merupakan teknologi tinggi sedangkan fondasinya ialah teknologi tepat guna. Agar bisa mencapai puncak, tentu fondasi harus dibangun dengan baik.


Kembali ke bidang ketenagalistrikan, banyak sekali pemanfaatan yang bisa dihasilkan dengan teknologi tepat guna. Suatu karya inovasi dalam bidang ketenagalistrikan harus bisa memberikan semua atau salah satu contoh keuntungan berupa kenaikan efisiensi, penurunan heat rate, percepatan maintenance, naiknya availibility hingga penurunan losses transmisi-distribusi. Dari internal PLN, tiap tahun dihasilkan rata-rata 153 karya inovasi. (Ishvandono Yunaini, 2016).


Sebagai mahasiswa bidang ketenagalistrikan tentu mempunyai tanggung jawab mengaplikasikan ilmunya di dalam sebuah karya. Sesuai konsep Pak Supriadi, 1×1000=1000×1, peran mahasiswa ketenagalistrikan dapat benar-benar terimplementasi. Dengan teknologi tepat guna, mahasiswa menghasilkan suatu karya, kemudian bergerak di masyarakat untuk transfer ilmu dan ke swasta sebagai pemodal, karya ini bisa diberdayakan dalam bentuk komunitas usaha kelistrikan. Bukan tidak mungkin suatu komunitas ini bisa menjadi IPP dan ikut berkontribusi meningkatkan rasiso elektrifikasi di Indonesia.


Firdaus Wahyu Nugroho
Teknik Tenaga Listrik ITB / 18015026

Seminar Hari Listrik Nasional

Seminar Listrik

Tahukah anda?
Seluruh wilayah Indonesia sangat berpotensi akan penggunaan energi terbaharukan

Yuk cari tahu lebih mendalam tentang Energi terbarukan di Seminar Hari Listrik Nasional yang akan diadakan pada:

Sabtu, 29 Oktober 2016
08.30 – 12.30
Perpustakaan Pusat ITB Lt. 4

Langsung saja daftar di
Bit.ly/seminarharilistrik

Terbuka untuk umum, tempat terbatas

**FREE ENTRY & FREE FOOD**

Menuju Masa Depan Yang Terbarukan

wow

Energi menjadi sebuah bagian yang tak bisa terpisahkan dalam hidup kita, karena itulah umat manusia terus berusaha untuk mencari sumber energi guna mempermudah berbagai aktivitas dalam hidupnya. Salah satu sumber energi yang paling sering dipakai saat ini adalah bahan bakar fosil. Berdasarkan statistik dari International Energy Agency, pada 2014 tercatat penggunaan bahan bakar fosil (batu bara, minyak bumi, dan gas alam) sebagai sumber energi mencapai sekitar 81% dari seluruh sumber energi yang tersedia. Sementara untuk produksi energi listrik, secara global penggunaan bahan bakar fosil tersebut mencapai sekitar 67%. Memang, bahan bakar fosil masih menjadi favorit saat ini karena relatif lebih murah, mudah didapat, dan efektif. Namun sayangnya, penggunaan bahan bakar fosil saat ini sudah terlalu merajalela sehingga menimbulkan berbagai dampak negatif. Salah satu dampak yang paling signifikan adalah tingginya kontribusi bahan bakar fosil terhadap kerusakan lingkungan. Lembaga US Environmental Protection Agency melalui website-nya menyatakan bahwa pada tahun 2010, dari seluruh emisi gas rumah kaca di bumi ini, 65% diantaranya merupakan karbondioksida yang sebagian besar (91% dari seluruh emisi karbondioksida) timbul sebagai hasil pembakaran bahan bakar fosil. Belum lagi ditambah dengan emisi gas metana yang berasal dari penggunaan gas alam sebagai sumber energi, yang sama-sama berdampak buruk bagi lingkungan, serta gas-gas lainnya.

 

Seberapa besarkah kerusakan lingkungan yang terjadi akibat penggunaan bahan bakar fosil? Kenaikan temperatur global adalah salah satu contohnya. Dari tahun 1880 hingga 2015, tercatat kenaikan temperatur global sekitar 0,9 derajat Celcius. Dampak dari kenaikan temperatur tersebut misalnya adalah melelehnya es di kutub yang menyebabkan naiknya permukaan air laut (tiap tahunnya rata-rata air laut global naik 3,2 milimeter) sehingga mempermudah terjadinya banjir di berbagai daerah. Selain kenaikan temperatur global, dampak lainnya adalah fenomena hujan asam yang disebabkan oleh Sulfur Dioksida sebagai hasil dari pembakaran bahan bakar fosil. Akibat dari hujan asam ini bisa merusak benda-benda yang terkena air hujan tersebut. Bahan bakar fosil juga berdampak buruk bagi kesehatan manusia, karena sisa pembakarannya menghasilkan gas-gas berbahaya dan bisa mengakibatkan asma, COPD (chronic obstructive pulmonary disorder), bahkan hingga kanker paru-paru. Selain itu, secara jangka panjang kita tidak bisa bergantung pada bahan bakar fosil terus menerus, karena butuh waktu yang sangat lama bagi bahan bakar fosil untuk mengalami regenerasi. Jika dalam beberapa puluh tahun kedepan kita masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil dan ternyata bahan bakar fosil tersebut habis, bisa jadi akan timbul bencana kelangkaan energi yang dahsyat.

 

Dengan segala permasalahan tersebut, tentu saja perlu dicari solusi agar dampaknya tidak semakin parah. Salah satunya adalah dengan mulai mengganti bahan bakar fosil tersebut dengan sumber energi yang lebih ramah lingkungan dan terbarukan. Ramah lingkungan, artinya sumber energi tersebut tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan seperti yang disebutkan di paragraf sebelumnya. Terbarukan, artinya energi tersebut berasal dari proses alam yang berkelanjutan, sehingga dapat mengalami regenerasi dalam waktu yang singkat. Dengan begitu, dalam jangka panjang kita tidak perlu khawatir jika sewaktu-waktu sumber energi tersebut habis (dengan catatan : bila energi tersebut dikelola dengan baik). Sumber energi alternatif tersebut biasa kita sebut sebagai energi baru dan terbarukan (EBT).

 

Konsep EBT sudah mulai dikenal sejak sekitar tahun 1970, dan terus dikembangkan hingga sekarang. Indonesia pun tidak boleh kalah dalam pengembangan EBT ini. Dengan emisi CO2 per kapita yang sudah mencapai 1,8 metrik ton pada tahun 2010, serta cadangan bahan bakar fosil yang terus menipis (bahkan untuk minyak bumi sejak tahun 2002 Indonesia telah menjadi net importir dan cadangannya diperkirakan akan habis dalam sekitar 10 tahun kedepan), pengembangan EBT menjadi sebuah tugas yang mesti digarap secepat dan sebaik mungkin. Pemerintah Indonesia sendiri sudah memiliki rencana dalam mengembangkan EBT, salah satunya dalam bidang ketenagalistrikan. Merujuk pada dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2016-2025, diharapkan pada tahun 2025 komposisi penggunaan EBT Indonesia akan meningkat sekitar 22 Giga Watt sehingga porsi EBT dalam pembangkitan tenaga listrik menjadi 19,6%. Dari dokumen RUPTL juga, dengan peningkatan porsi EBT tersebut pada tahun 2025 diperkirakan akan terjadi penurunan emisi CO2 sebesar 112 juta ton CO2. Jika memungkinkan, bahkan proyeksi porsi EBT kabarnya akan direvisi dan ditingkatkan lagi menjadi 25% di tahun 2025.

 

Proyeksi EBT yang disebutkan sebelumnya bukanlah tanpa pertimbangan yang matang. Selain faktor pentingnya menggantikan bahan bakar fosil, rupanya potensi EBT di Indonesia juga cukup menjanjikan, berikut ini rinciannya : (sebagai pembanding, saat ini total kapasitas pembangkit listrik yang terpasang di Indonesia adalah sekitar 51.000 MW)

 Tenaga panas bumi, potensinya mencapai 29.164 Mega Watt elektrik (MWe)
 Tenaga air/hydro, potensinya sekitar 75.000 MWe
 Biomassa, potensinya 49.810 Mwe
 Tenaga surya/matahari, potensinya 4,8 kWh/m2/hari. HIngga tahun 2025 rencananya akan dilakukan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya sebesar 5.000 MW
 Tenaga angin, potensi kecepatan angin sekitar 3-6 m/s. Hingga tahun 2025 rencananya akan dilakukan pengembangan pembangkit listrik tenaga bayu (angin) sebesar 2.500 MW
 Energi kelautan (dengan memanfaatkan pergerakan air laut, namun sumber energi ini masih dalam tahap penelitian), diperkirakan potensinya mencapai 49.000 MWe

 

Dengan tingginya potensi yang dimiliki, bukan berarti pengembangan EBT berjalan tanpa hambatan. Hingga tahun 2025, Kementrian ESDM Republik Indonesia baru menginvestasikan sekitar 13 juta US Dollar untuk pengembangan EBT. Jumlah tersebut sebenarnya tergolong kecil dibandingkan jumlah investasi sistem tenaga listrik yang dibutuhkan Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang mencapai 75,6 miliar US Dollar hingga tahun 2025 (31,9 miliar US Dollar diantaranya dimanfaatkan untuk pengembangan pembangkit listrik). Dalam RUPTL 2016-2025 memang disebutkan bahwa besarnya kebutuhan investasi ini karena mempertimbangkan pengembangan pembangkit listrik EBT yang cukup tinggi untuk mencapai target bauran energi dari EBT sekitar 20% pada tahun 2025. Masalah finansial memang masih menjadi masalah yang sulit untuk dihindari, khususnya bagi negara yang masih berkembang seperti Indonesia. Sebagai pembanding, besarnya total belanja negara berdasarkan dokumen “Informasi APBN 2016” dari Kementrian Keuangan RI adalah Rp 2.095,7 T atau sekitar 160 juta US Dollar, masih jauh lebih kecil dibandingkan kebutuhan investasi PLN yang tadi disebutkan. Dapat disimpulkan, pengembangan EBT memang bukanlah sesuatu yang murah. Namun jika ditinjau secara jangka panjang, EBT bisa menjadi pilihan yang menguntungkan secara ekonomis, salah satunya karena sumber EBT umumnya bukan hasil impor, sehingga harga bahan bakarnya relatif lebih stabil. Memang untuk kedepannya masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut agar pemanfaatan EBT bisa lebih efisien dan efektif baik dari segi teknikal maupun finansial.

 

Meski terdapat berbagai hambatan yang timbul dalam pengembangan EBT, bukan berarti impian untuk memaksimalkan potensi EBT sebatas sampai dituangkan dalam dokumen-dokumen. Beberapa langkah konkret sudah dilakukan, diantaranya adalah pembangunan PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro) Lokomboro dengan kapasitas 2,7 MW yang berlokasi di Sumba, dari pembangkit tersebut pada tahun 2015 bisa didapat penghematan hingga 10 milyar rupiah. Selain itu di wilayah Sumba juga terdapat PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) dengan kapasitas daya terpasang 500 kW dan 150 kW. Selain di Sumba, pembangunan PLTS juga sudah dilakukan di beberapa daerah seperti di Kampung Harapan Jaya Kabupaten Raja Ampat (kapasitas 15 kW), di Provinsi Maluku (kapasitas total 200 kW), di Provinsi Maluku Utara (kapasitas 350 kW). Selain PLTMH dan PLTS, beberapa proyek PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi) juga akan siap beroperasi dalam waktu dekat ini, diantaranya adalah PLTP Sarulia (berlokasi di Tapanuli, Sumatera Utara) dengan kapasitas 110 MW yang akan beroperasi pada Desember 2016, PLTP Karaha (Garut, Jawa Barat) dengan kapasitas 30 MW yang akan beroperasi Desember 2016, dan lainnya. Berbagai realisasi pembangkit listrik EBT tersebut patut disyukuri dan kita apresiasi karena hal tersebut menunjukan keseriusan stakeholder yang ada dalam menggarap pengembangan EBT.

 

Melihat kondisi yang ada saat ini, seperti yang disampaikan sebelumnya, penulis berpendapat bahwa pengembangan EBT memang sudah sebaiknya kita lakukan secepat dan sebaik mungkin. Jika tidak, bukan tidak mungkin kondisi lingkungan akan semakin rusak sehingga memicu berbagai bencana alam maupun penyakit bagi makhluk hidup, bukan tidak mungkin di masa depan akan terjadi krisis energi akibat kita yang terlambat menyadari bahwa ada pilihan alternatif energi yang terbarukan, serta bukan tidak mungkin kita akan terus mengalami kerugian secara finansial maupun teknikal akibat terlalu bergantung terhadap sumber energi dari bahan bakar fosil. Sebagai mahasiswa, memang masih banyak keterbatasan yang kita miliki, namun bukan berarti kita tidak bisa berbuat apapun untuk berkontribusi bagi pengembangan EBT. Salah satu cara yang paling mungkin untuk dilakukan adalah dengan menambah wawasan seluas mungkin terkait EBT beserta arah perkembangannya (khususnya di Indonesia), sehingga ketika sudah terjun ke dunia karir dan bergulat dengan kenyataan yang ada nantinya, kita bisa lebih siap lagi untuk berkontribusi semaksimal mungkin dalam pengembangan EBT. Karena itulah, HME ITB bekerjasama dengan panitia “Power UP” membuat sebuah langkah konkret dengan mengadakan seminar mengenai “Energi Baru Terbarukan : Realita Implementasi dan Sinergisasi Pilar-Pilar Utama” dalam rangka Hari Listrik Nasional yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 29 Oktober 2016 pukul 08.30-12.30 di Perpustakaan Pusat ITB Lantai 1 (pendaftaran di bit.ly/seminarharilistrik , info lebih lanjut bisa cek di Line Official Account “HME ITB”). Sampai jumpa disana kawan! Untuk masa depan yang terbarukan!

Angga Aprilian
18013023
 

Power Simulation

Power Simulation atau yang lebih dikenal dengan PSIM adalah salah satu software yang berguna untuk mensimulasikan berbagai karakteristik elektronika dan system tenaga listrik yang berjalan pada Operator System Windows dan semacamnya. PSIM yang kami berikan bersifat installer.

1. Tampilan Awal
Tampilan awal pada PSIM sama seperti lembaran kosong pada umumnya yang tidak berisikan sesuatu.
2. Komponen-komponen elektronika pada PSIM

Sesuai dengan fungsinya komponen-komponen yang digunakan pada PSIM yaitu komponen elektronika yang pada umumnya seperti:
– Transistor
– Kapasistor
– Induktor
– Dioda
3. Membuat Rangkaian pada PSIM

Seperti halnya membuat sebuah rangkain kita harus mengetahui rangkaian apa yang akan kita buat dan komponen-komponen apa saja yang ada dalam rangkaian tersebut. Maka kita harus menentukan rangkaian apa yang akan kita buat dan komponen apa saja yang ada didalamnya. Kemudian kita sambungkan komponen-komponen tersebut menggunakan wire

4. Melakukan simulasi rangkaian

Setelah membuat rangkaian, selanjutnya kita mensimulasikan rangkaian tersebut dalam bentuk gelombang

Dengan PSIM kita juga bisa melatih kreativitas kita dalam membuat rangkaian sesuai dengan hati kita dan kita juga dapat mensimulasikannya dalam bentuk gelombang.

Link: https://youtu.be/axgI6xNYKCs

Tugas Keprof EP

Oleh: Abdurrauf Irsal/18015002